REALISASIKAN 21 JANJI MANISMU


Dalam dunia perpolitikan, memenangkan kursi pemerintahan merupakan tujuan utama. Untuk mendapatkannya, tentu harus dengan meraih dukungan terbanyak dari masyarakat pada saat pemilihan umum eksekutif maupun legislatif, sesuai dengan konteks trias politica. Beragam cara dilakukan para kandidat maupun para simpatisan partai seperti yang terlihat pada pemilihan kepala daerah di Aceh pada 9 April 2012 silam.
Tak bisa dipungkiri, salah satu cara andalan yang digunakan kandidat adalah dengan menebarkan janji-janji “manis” yang dapat membuat rakyat terlena akan hal tersebut, kata lainnya adalah janji politik. Janji politik bertujuan hanya untuk memobilisasi dukungan dan menggiring pemilih ke bilik suara. Janji politik ini cenderung bersifat satu arah dan sementara dengan memberi tekanan yang sangat besar pada harapan jika memenangkan pemilu.
Boleh dikatakan bahwa kampanye politik yang dilakukan oleh pasangan “jawara” gubernur dan wakil gubernur kita, Bapak Zaini Abdullah dan Muzakkir Manaf cenderung berhasil. Namun yang menjadi permasalahan bagi masyarakat saat ini adalah, belum adanya realisasi dari ke-21 janji yang telah dilontarkan kedua pasangan. Jika pun ada, itu hanya sebagian kecil.
Memang sudah menjadi kebiasaan ketika menjelang pemilu baik PILPRES, PILEG dan PILKADA para kandidat sering melontarkan janji-janji politik. Sebenarnya, yang didengungkan para calon penguasa pada saat menjelang pemilu bukanlah janji politik, melainkan sesuatu kewajiban yang memang harus dilakukan seorang pemimpin ketika sudah menjabat.
Tujuan utama rakyat memilih penguasa adalah untuk menciptakan kesejahteraan, pendidikan dan kesehatan gratis atau kalau tidak gratis maka setidaknya murah serta dapat dijangkau seluruh kalangan, menciptakan keadilan yang sesungguhnya, menegakkan hukum tanpa pandang bulu, mengarahkan rakyat pada kebaikan dengan menciptakan sarana yang menuju pada kebaikan itu dan menjauhkan mereka dari keburukan dengan menghilangkan sarana yang menuju pada keburukan, meningkatkan taraf hidup mereka, dan terpenting adalah mengarahkan mereka pada kebahagiaan dunia dan akhirat, dan lain-lain.
Rakyat berhak menuntut hak mereka, dan seharusnya para politisi malu ketika hal-hal tersebut dijadikan janji politik, apalagi ketika janji-janji itu tidak juga ditepati oleh sang penguasa. Rakyat tidak membutuhkan janji-janji politik, dan seharusnya rakyat juga tidak memilih pemimpin berdasarkan janji.
Janji Politik dalam Islam
Hukum berjanji adalah boleh (jaiz) atau disebut juga dengan mubah. Tetapi hukum memenuhi atau menepatinya adalah wajib. Melanggar atau tidak memenuhi janji adalah haram dan berdosa. Berdosanya itu bukan sekadar hanya kepada orang yang kita janjikan tetapi juga kepada Allah swt.
Seperti yang tertulis dalam Al-quran surat An-Nahl ayat 91: “Dan tepatilah perjanjianmu apabila kamu berjanji dan janganlah kamu membatalkan sumpah-sumpah itu, sesudah meneguhkannya, sedang kamu telah menjadikan Allah sebagai saksimu. Sesungguhnya Allah mengetahui apa yang kamu perbuat.”
Janji memang tipe pekerjaan yang sangat ringan, mudah saja dalam pengucapannya, namun besar konsekuensinya jika tidak bisa ditepati, apalagi janji kepada rakyat. Akibatnya bisa dilihat pada kericuhan yang terjadi pada kantor gubernur Aceh jumat (27/12). Persoalannya tidak jauh-jauh dari kata janji.
Padahal dalam Alquran sudah ditegaskan bahwa ingkar janji merupakan perbuatan setan, setan itu memberikan janji-janji kepada mereka dan membangkitkan angan-angan kosong, padahal setan itu tidak menjanjikan hal itu melainkan tipuan belaka (An-Nisa:120). Menepati janji adalah bagian dari iman. Barangsiapa yang tidak menjaga perjanjiannya maka tidak ada agama baginya. Maka seperti itu pula ingkar janji, termasuk tanda kemunafikan.
Harapan Rakyat
Harapan dari rakyat, jadilah pemimpin yang amanah, sesungguhnya kami tak pernah menginginkan pemimpin yang munafik, kami menginginkan pemimpin yang mampu bertanggung jawab atas segala janji-janji, pemimpin yang arif dan bijaksana, pemimpin yang mampu menciptakan lapangan kerja bukan menciptakan “massa proposal”. Sadarlah para pemimpin, sebelum rakyat menyadarkanmu dengan caranya sendiri.
Kesejahteraan rakyat bergantung pada kemuliaan hati sang pemimpin. Rakyat ingin menjalin kemesraan yang dapat membuat iri daerah lain, bukan dengan pertikaian yang dapat membuat orang lain tertawa. Rakyat tidak butuh pemimpin yang mampu merangkai indahnya janji-janji menjadi mimpi, melainkan pemimpin yang mampu membuat janji menjadi nyata.

Zulia Zahara
Alumni Ilmu Komunikasi UNIMAL
zuliazahara@yahoo.co.id

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s