KISAH SANG DOKTER MUDA


oleh: Zulia Zahara

26 desember 2004 mungkin akan menjadi tanggal yang tidak akan terlupakan oleh seluruh masyarakat Aceh bahkan dunia. Karena pada hari itu sebuah tragedi maha dahsyat menggemparkan dunia yaitu gempa dan tsunami, ratusan ribu nyawa melayang dan hilang ditelan kedalam dasar samudra. Termasuk didalamnya seluruh anggota keluarga dari Sandi (22), pada saat kejadian itu dia masih duduk di bangku kelas III SMP. Sandi panggilan akrabnya merupakan anak pertama dari tiga bersaudara. Pada saat tsunami melanda seluruh keluarga Sandi  hilang tanpa ditemukan jasadnya. Sandi  ditemukan oleh guru sekolahnya di bawah jembatan Peunayong selang beberapa jam setelah tsunami melanda. Dengan tubuh penuh luka goresan kaca dan seng, Sandi  diungsikan ke Lhokseumawe oleh pamannya.

Luka sayatan dan rasa perih yang ada di tubuhnya menjadi lebih menyakitkan  ketika mengetahui bahwa jasad orang tua dan adik-adiknya tidak dapat ditemukan setelah dua minggu berlalu pasca tsunami. Hebatnya, dia mampu untuk menyembunyikan kedukaan yang sangat mendalam selama berada di kota yang tak pernah dia datangi itu, karena ia merasa tidak ingin membuat lautan kesedihan bagi keluarga yang merangkulnya. Dengan susah payah dia mulai menata keterpurukannya, Ujian Nasional sudah di ambang pintu siap menguji siswa-siswa yang telah meluangkan waktu selama tiga tahun. Sandi  dengan segala kecamuk yang ada di dada mulai mengingat dan mempelajari semua yang pernah dia dapatkan ketika berada di sekolahnya dahulu. Namun cobaan masih mau untuk menguji kesabarannya, dia dinyatakan tidak lulus pada saat itu, wajar bagi orang-orang sekitarnya yang melihat akan hal tersebut, ketika menilik apa yang telah dia alami selama ini. Dan yang membuat orang-orang terharu dan bertambah simpatik ketika melihat ketabahan yang ada dalam diri Sandi , dia masih tetap tersenyum dan ceria tanpa ada raut sedih di wajahnya. “Alhamdulillah, Allah masih sayang sama Sandi ” ujarnnya. Kata-kata syukur tak pernah hilang dari bibirnya.

Air mata pertama pernah jatuh dipipinya ketika merayakan hari raya Qurban. Ini merupakan hari raya yang sangat menyedihkan bagi masyarakat Aceh khususnya Sandi , jika pada lebaran Idul Fitri dia masih bisa bersimpuh di kaki ibu dan ayahnya, mencium adik-adiknya serta menikmati lontong kesukaan buatan ibunya, namun pada saat itu ia hanya dapat bersimpuh di lutut Pakwa dan neneknya. Dengan menundukkan wajah dia berusaha menyembunyikan air mata pilu, namun tak sanggup terbendung lagi ketika ia memeluk neneknya dan menumpahkan segala kesedihan serta duka yang dia rasakan, seisi rumah mengharu biru menyaksikan adegan yang menguras emosi jiwa yang ada.

Langit esok masih sangat begitu cerah, serpihan luka jiwa dan raga sedikit demi sedikit mulai bisa di tata kembali. Harapan besar yang pernah mati mulai bersemi lagi, dukungan-dukungan yang ada sangat berarti bagi setiap orang yang merasa sepi. Dengan segenap perjuangan yang ada, Sandi  berhasil lulus dari SMP N 1 Lhokseumawe dan diterima di Fatih Bilingual School Banda Aceh. Dengan tekad yang kuat dia kembali ke kampung halamannya, sangat berat baginya untuk pulang, yang tentunya dia harus menguak luka lagi, rindu akan kebersamaan dengan keluarganya tercinta, jika waktu bisa di ulang kembali, dia sangat ingin berbakti lagi dengan orang tuanya. Penyesalan memang selalu datang terlambat.

Perjuangan masih panjang, tak ada waktu untuknya terus berkeluh kesah akan nasib. Cara untuk membahagiakan orang tua, hanya dengan doa dan prestasi. Tiga tahun bertarung dengan ratusan orang-orang terpilih di sekolah, akhirnya ia menjadi salah satu dari dua puluh orang siswa yang berprestasi, dan mendapat kesempatan untuk mengunjungi negara Turki. Sandi  dan kawan-kawan bersama dengan abi (sapaan untuk guru yang berasal dari Turki) jalan-jalan dan mengunjungi setiap universitas yang ada di sana, mereka juga mendapat undangan untuk melanjutkan sekolah disana. Tuhan memang maha adil, Sandi  menuai rahmat dari setiap perjuangan dan kesabarannya.

Tujuh tahun telah berlalu, Aceh telah menjadi normal kembali, kota-kota yang dulu hancur, kini telah dijamuri dengan gedung-gedung mewah yang dulu tak pernah ada. Kesemrautan kota metropolitan yang hanya terlihat di televisi kini hadir di kota Banda Aceh, segala perubahan nampak jelas dari setiap sudut kota, namun hal itu tidak ikut mengubah pribadi seorang Sandi , dia masih seperti dulu, tetap sabar dan bersahaja, walupun timbunan lemak kini ada di setiap likuk tubuhnya. Mei 2012 nanti akan muncul sedikit selipan di balik namanya menjadi Dr. Sandi , dokter muda ini lulusan dari fakultas kedokteran, Universitas Syiah Kuala, Banda Aceh. Sebuah keberhasilan yang lahir dari setiap pengorbanan dan ketabahan seorang anak yatim piatu, yang mampu menghidupi dirinya sendiri dan membawanya ke pintu kesuksesan. Hal ini membuktikan bahwa keterbatasan yang ada, tidak dapat menghentikan langkah seseorang untuk meraih kesuksesan. Semuanya harus diiringi dengan perjuangan, doa dan tawakkal. Cahaya kesempatan pasti akan menghampiri kita, jika kita mau berusaha. Allah tidak menguji suatu kaum diluar kemampuan kaum tersebut.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s