LULUS SENSOR ATAU LOLOS SENSOR


Undang-Undang Film Pasal 41, “pemerintah wajib mencegah film impor yang bertentangan dengan nilai-nilai agama, moral, etika, dan budaya bangsa”. itulah bunyi dari sebuah pasal dalam undang-undang perfilman yang harus dilaksanakan oleh semua insan perfilman di Indonesia, tak ayal pada tahun 1994  dengan PP No.6, film impor begitu sampai di bandara  harus dibawa langsung ke LSF untuk langsung disensor.  Namun, sudah cukup lama peraturan tersebut tidak dijalankan.  Yang mengambil film ke bandara adalah dari pihak pemilik film. hal ini yang membuat film-film yang bertentangan dengan pasal 41 dalam undang-undang perfilman begitu merajalela hadir disetiap layar lebar dan kaca maasyarakat. tentu kita berfikir dimana peran lembaga sensor film itu sendiri? sungguh sangat kita sesalkan ketika makin hari makin banyak film-film impor yang tidak pantas di tonton masyarakat khususnya anak-anak seakan-akan tidak terbendung lagi, mulai dari film porno, semi-porno, pembantaian dll telah mengisi keseharian tontonan masyarakat khususnya anak-anak dibawah umur.

namun  ada yang lebih membuat kita prihatin, dimana bukan lagi film-film impor yang menawarkan tampilan-tampilan yang merusak moral bangsa tetapi film-film lokal pun sudah mulai menawarkan konsep-konsep tidak bermoral dlam film mereka, tidak ayal kita kembali berasumsi dimanakah LSF?
lembaga lulus SENSOR atau lembaga LOLOS sensor….sungguh ironis LSF……:(

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s