Proses komunikasi yang terjadi antara ustad dan santri-santriah di Pesantren Misbahul Ulum Paloh.


Menurut Rogers & D. Lawrence Kincaid (1981) “komunikasi adalah suatu proses dimana dua orang atau lebih membentuk atau melakukan pertukaran informasi dengan satu sama lainnya, yang pada gilirannya akan tiba pada saling pengertian yang mendalam”. Everett M. Rogers juga berpendapat bahwasannya komunikasi adalah suatu proses dimana suatu ide dialihkan dari sumber kepada satu penerima atau lebih, dengan maksud untuk mengubah tingkah laku mereka.

Dari pendapat-pendapat yang terurai di atas, dapatlah kita mengambil kesimpulan bahwasannya komunikasi itu sangat diperlukan dalam menjalani kehidupan sehari-hari, baik itu untuk memenuhi kebutuhan informasi, keberlangsungan hidup, menyesuaikan diri dengan lingkungan dan juga untuk pengembangan ilmu, karena komunikasi merupakan suatu kebutuhan yang sangat fundamental dalam kehidupan bermasyarakat.

Begitu pula dengan proses komunikasi antara ustad dan santri-santriah di Pesantren Misbahul Ulum Paloh yang kami amati. Komunikasi yang terjadi antara santri-santriah dengan para ustad sangat berbeda dengan cara berkomunikasi orang pada umumnya. Para santri sangat santun terhadap ustadnya. Sebagai contoh yakni ketika santri tanpa sengaja bertemu dengan ustadnya, maka santri tersebut wajib menegur dengan mengucapkan salam. Di saat ustad sedang mengajar, keadaan kelas sangat tenang, semua santri dengan cermat mendengarkan dan memahami pelajaran yang sedang diajarkan oleh ustadnya. Namun jika santri dengan sengaja berbuat nakal, maka ustad dengan tegasnya memberikan hukuman kepada santri seperti membersihkan kamar mandi, halaman dan sebagainya. Rasa segan dan hormat yang tinggi sangat dijunjung oleh para santri.

Ada hal yang sangat membuat kami menarik dengan cara berkomunikasi mereka, yang mungkin belum ada di sekolah-sekolah biasa. Ketika baru-baru menduduki bangku pesantren, para santri-santriah dibekali dengan kosakata-kosakata Inggris dan Arab selama 6 bulan. Dalam waktu 6 bulan ini mereka semua masih diizinkan berkomunikasi menggunakan bahasa Indonesia maupun bahasa daerah. Namun setelah melewati masa pembekalan mereka di haramkan menggunakan bahasa Indonesia maupun bahasa daerah kecuali dengan orang tua ketika ada yang menjenguk. Jika ada yang ketahuan menggunakan bahasa tersebut baik sengaja ataupun tidak sengaja, mereka akan merasakan ruang sidang yang biasanya mereka sebut dengan “mahkamah”. Setiap seminggu sekali mereka mengganti bahasa yang mereka gunakan. Seminggu menggunakan bahasa Inggris dan seminggu kemudian mengunakan bahasa Arab. Ketika berbicara dengan ustad, mereka juga harus menggunakan bahasa yang sesuai dengan jadwal. Tak ayal para ustad-ustazah disana juga harus bisa menyesuaikan bahasa yang mereka gunakan.

 

 

 

 

 

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s