Kapitalisme Media


Kapitalisme Media

John Naisbitt dan Patricia Aburdene, dalam buku mereka berjudul Megatrends 2000, menggambarkan kecederungan perubahan sosial yang ditandai oleh adanya pergeseran-pergeseran dari masyarakat industri ke masyarakat informasi. Di Negara-negara berkembang, karakteristik masyarakat informasi seperti di sebut Naisbitt itu memang sudah banyak ditemukan, tetapi penggunaan informasi dalam rangkaian pembangunan jelas suatu fakta yang tidak bisa dipungkiri. Di indonesia misalnya sejak tahun 1960an media massa mulai dari media cetak, radio & televisi mulai berseri. Bahkan mulai dekade 1980an, media massa Indonesia semakin tampak menjadi bagian dari sektor industri komersial. Hal ini berarti sektor komunikasi berpeluang sebagai dunia usaha yang sangat luas. Sehingga dari media massa jugalah menciptakan adanya masyarakat informasi.

Membahas mengenai media massa, pasti tidak bisa lepas dari iklan, begitu pun sebaliknya. Karena adanya korelasi yang saling berkeuntungan, iklan membutuhkan media massa untuk menyampaikan pesan atau dagangannya. Dan media membutuhkan iklan untuk pertumbuhan kerajaan medianya. Lingkungan dunia bisnis periklanan sangatlah luas, dilihat dari segi omzet belanja iklan, bisnis di bidang ini pun masih merupakan kesempatan besar. Contoh pada tahun 1994 belanja iklan di media massa kurang lebih mencapai 1,66 trilyun rupiah. Kalau termasuk industri penunjang iklan seperti production house dan jasa acara-acara televisi lain, proyek tersebut akan menjadi sebesar 2,3 trilyun rupiah.

Interaksi Modal & Media
Berbicara tentang media di Indonesia adalah berbicara tentang dua hal institusi kapitalis dan masyarakat kelas atas sebagai konsumen utamanya. Media kapitalis menunjukkan bahwa sebuah media massa baik cetak maupun elektronik termasuk juga dengan internet diciptakan untuk menjadi alat pencetak keuntungan bagi pemilik modal. Bahkan berita sebagai komoditi yang sangat bisa dijual tampaknya sudah lama disadari di Indonesia, sehingga pergeseran ideologi di dalam industri pers dari politik di zaman orde lama menjadi pers komersial pada periode 1970-1980 merupakan hal yang wajar.

Ahli media seperti Burrel Headley yang membela pers kapitalis mengatakan bahwa berita adalah komoditi yang dijual dan media massa merupakan usaha untuk menjual informasi (1994). Meskipun menjadi alat pencari keuntungan, media sebagai institusi di dalam masyarakat seharusnya tetap memiliki dan dijamin haknya sebagai alat penyadaran bagi masyarakat dan sarana artikulasi bagi kritik juga ketidakpuasan terhadap pemerintah.

Namun tidak demikian halnya dengan industri media selama masa Orde baru. Tidak adanya kebebasan berpendapat dan kebebasan pers membuat media di Indonesia tidak pernah berhasil mengangkat dirinya sebagai pilar ke empat demokrasi. Satu hal lainnya adalah struktur organisasi media itu sendiri. Sebagai corong bagi kepentingan pemilik modal dan kelompok usahanya, mau tak mau membuat media harus tunduk kepada aturan-aturan main di dalam perusahaan yang kerap mencerminkan ketergantungan antara pemilik dan pemerintahnya.
Adapun sebuah teori yaitu teori peluru mengatakan bahwa media massa merupakan faktor yang menentukan dalam memengaruhi audiens secara langsung, segera dan sangat menentukan. Sudah tentu bahwa media massa mempunyai pengaruh yang sangat besar pada khalayak, dengan sebuah informasi yang disampaikan oleh media massa, maka akan membentuk opini publik. Opini inilah akan timbul berbagai pendapat dari masyarakat yang bersifat heterogen.

Pemotongan Anggaran Dan Penyiaran Berita
Bahwa faktor ekonomi membentuk arah penyiaran berita adalah sebuah fakta. Ketika lebih banyak media yang berkompetisi, maka hanya ada sedikit uang yang masuk melalui iklan dari masing-masing medium. Pendapatan bisa menurun untuk stasiun radio atau televisi semata itu.

Saat ini perkembangan media massa sangatlah luas dan megah, bahkan mencapai keuntungan yang besar kepada pemiliknya, satu perusahaan bisa memiliki banyak media yang hanya dimiliki oleh satu orang saja. Contoh MNC (Media Nusantara Citra) yang terdiri dari beberapa media massa seperti ada RCTI, TPI, Global TV, Koran Seputar Indonesia, Okezone.com, kemudian di media cetak ada Kompas Gramedia yang dimiliki oleh Jacob Oetama memiliki berbagai jenis media cetak yang secara spesifik bahkan saat ini kompas sudah memiliki media online. Belum lagi usaha media lain seperti Media Indonesia. Media massa sudah menjadi suatu wirausaha, takkan bisa tumbuh maju tanpa iklan. Iklan disini sangatlah berperan penting, media massa yang sudah tumbuh secara bebas, lihat saja dieletronik acaranya dipenuhi iklan, bahkan pada surat kabar disediakan tempat khusus untuk beriklan.

Saat mendapatkan tugas dari mata kuliah kapita selekta jurnalistik mengamati iklan di berita-berita televisi seperti di SCTV – liputan 6, biaya iklan per10 detik sebesar 90 juta rupiah. Berarti dalam 1 menit bisa mendapatkan 5,4 milyar rupiah. Itu baru satu menit saja belum menit-menit berikutnya. Pendapatan yang cukup besar untuk sebuah usaha ditiap menitnya.

Media Massa Berisikan Informasi dan Sangat Dibutuhkan Oleh Masyarakat, Apakah Iklan Berbahaya ada Di Media Massa untuk Dikonsumsi Publik ?
Menurut Jules Backman, pengamat dunia periklanan, melalui bukunya yang berjudul Advertising and Competition (1967) mengatakan bahwa iklan sesungguhnya tidak akan memeras perekonomian dan memboroskan kehidupan konsumen, iklan justru akan mampu mengembangkan serta menyejahterakan mereka. Hal itu berdasarkan pandangan bahwa sistem kapitalisme yang merekayasa komoditi akan terus memaksimalkan kapital, pada gilirannya akan menciptakan kebebasan, pertumbuhan ekonomi dan lapangan kerja yang akan meningkatkan kehidupan rakyat.

Beberapa pernyataan mengenai sisi bisnis yang tidak merusak konten acara di media :
• Dari sisi bisnis tayangan acara TV, penegasan agar sisi bisnis tidak merusak paket acara televisi. Untuk itulah perlu pengontrolan yang ketat dalam mengawasi masuknya iklan secara vulgar. Tidaklah salah apabila televisi mempunyai sisi bisnis pada tayangan materi acaranya. Sisi bisnis lebih besar persentasennya masuk dalam acara televisi .
• Dana dari pihak sponsor atau pengiklan merupakan bagian yang tidak dapat dipisahkan dari keberadaan paket acara televisi.
• Ada dua sisi masuk dalam paket acara televisi :
– Masuknya iklan atau sponsor di televisi mendukung kelancaran produksi acara (dana produksi).
– Televisi sebagai media informasi dalam menginformasikan hasil-hasil produksi kepada pemirsa.

Sehingga tak salah bila para produsen barang atau jasa memburu media televisi untuk menjadi partner bisnis untuk mempromosikan barang hasil produksinya. Kemungkinan para pemasang iklan menggunakan media televisi sebagai provit bagi produsen untuk mengambil kesempatan mencari untung.

Orientasi bisnis jaringan televisi seperti periklanan, lebih banyak berhubungan dengan kebijakan menyangkut etika dari pada pertimbangan-pertimbangan lain. Sebagaimana telah dikemukakan sebelumnya, jika perusahaan media tidak memperoleh keutungan secara ekonomi dari iklan, maka dapat dipastikan bahwa perusahaan tersebut tidak akan bertahan hidup meskipun niatnya mulia.
Dengan orientasi ekonomi ini dan gagasan bahwa etika dasarnya memfokuskan pada nilai-nilai individual, ada konflik etik yang melekat pada iklan.

Argumentasi Untuk Kapitalisme Media
kesempatan perusahaan dan insentif laba media massa saat ini memungkinkan untuk pertumbuhan dan keuntungan yang dapat membentuk modal untuk membangun struktur media yang efisien dan kuat. Media diAS telah lama menimbulkan kecemburuan sistem media diseluruh dunia. Beberapa sistem sosialis telah bergesar ke sistem kapitalisme perusahaan yang lebih kuat dan lebih baik keuangannya.

Sistem yang kuat secara ekonomi membuka peluang pada arus informasi yang sehat dan mulitidimensi, menawarkan sebuah pasar gagasan yang tepat. Pada dasarnya hal itu memperkuat demokrasi. Karena media menjadi satu segi ekonomi yang sangat penting menjual barang dan jasa, menawarkan informasi, hiburan dan pendidikan media memainkan bagian yang penting dalam rangsangan ekonomi, menjaga bisnis tetap sehat dan perekonomian dapat tumbuh dan berkembang.

Argumentasi Versus Kapitalisme Media
Media tidak lagi benar-benar merupakan laissez-faire, enterprise bebas, sturktur yang bersifat wiraswasta. Kerja sama media dengan ukuran kecil atau sederhana sedang ditelan habis-habisan oleh korporasi besar bisnis besar. Media tersebut umumnya ada ditangan orang-orang kaya.

Penelitian menunjukkan adanya tiga pengaruh penentuan agenda :
• Sejauh mana media mencerminkan agenda publik atau yang disebut sebagai representasi (publik mempengaruhi media).
• Pemeliharaan agenda yang sama oleh publik selama waktu itu, media memiliki pengaruh kecil.
• Apabila media memengaruhi agenda publik yang disebut persuasif.

Jenis ketiga pengaruh ini media massa mampu memengaruhi publik ialah tepat seperti yang diramalkan oleh teori penentuan agenda klasik.

Saat ini media-media massa yang dijuluki “kekayaan media”, dijual dan diperdagangkan tidak ubahnya seperti daging sapi. Sementara banyak transaksi finansial semacam itu dilakukan oleh analisis keuangan yang tajam melihat masa depan perkembangan media, sedangkan yang lain murni karena “keuntungan” dengan tetap mempertimbangkan masa depan harta itu sendiri.

Referensi Buku :
Komunikasi Bisnis (Drs. Redi Panuju), Pers Dalam Revolusi Mei (Dedy N. Hidayat, Effendi Gazali, Harsono Suwardi, Ishadi S.K), Theories of Human Communication (Stephen W Littlejohn), Electronic Media Ethics (Val E. Limburg).

 

One thought on “Kapitalisme Media

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s