REALISASIKAN 21 JANJI MANISMU


Dalam dunia perpolitikan, memenangkan kursi pemerintahan merupakan tujuan utama. Untuk mendapatkannya, tentu harus dengan meraih dukungan terbanyak dari masyarakat pada saat pemilihan umum eksekutif maupun legislatif, sesuai dengan konteks trias politica. Beragam cara dilakukan para kandidat maupun para simpatisan partai seperti yang terlihat pada pemilihan kepala daerah di Aceh pada 9 April 2012 silam.
Tak bisa dipungkiri, salah satu cara andalan yang digunakan kandidat adalah dengan menebarkan janji-janji “manis” yang dapat membuat rakyat terlena akan hal tersebut, kata lainnya adalah janji politik. Janji politik bertujuan hanya untuk memobilisasi dukungan dan menggiring pemilih ke bilik suara. Janji politik ini cenderung bersifat satu arah dan sementara dengan memberi tekanan yang sangat besar pada harapan jika memenangkan pemilu.
Boleh dikatakan bahwa kampanye politik yang dilakukan oleh pasangan “jawara” gubernur dan wakil gubernur kita, Bapak Zaini Abdullah dan Muzakkir Manaf cenderung berhasil. Namun yang menjadi permasalahan bagi masyarakat saat ini adalah, belum adanya realisasi dari ke-21 janji yang telah dilontarkan kedua pasangan. Jika pun ada, itu hanya sebagian kecil.
Memang sudah menjadi kebiasaan ketika menjelang pemilu baik PILPRES, PILEG dan PILKADA para kandidat sering melontarkan janji-janji politik. Sebenarnya, yang didengungkan para calon penguasa pada saat menjelang pemilu bukanlah janji politik, melainkan sesuatu kewajiban yang memang harus dilakukan seorang pemimpin ketika sudah menjabat.
Tujuan utama rakyat memilih penguasa adalah untuk menciptakan kesejahteraan, pendidikan dan kesehatan gratis atau kalau tidak gratis maka setidaknya murah serta dapat dijangkau seluruh kalangan, menciptakan keadilan yang sesungguhnya, menegakkan hukum tanpa pandang bulu, mengarahkan rakyat pada kebaikan dengan menciptakan sarana yang menuju pada kebaikan itu dan menjauhkan mereka dari keburukan dengan menghilangkan sarana yang menuju pada keburukan, meningkatkan taraf hidup mereka, dan terpenting adalah mengarahkan mereka pada kebahagiaan dunia dan akhirat, dan lain-lain.
Rakyat berhak menuntut hak mereka, dan seharusnya para politisi malu ketika hal-hal tersebut dijadikan janji politik, apalagi ketika janji-janji itu tidak juga ditepati oleh sang penguasa. Rakyat tidak membutuhkan janji-janji politik, dan seharusnya rakyat juga tidak memilih pemimpin berdasarkan janji.
Janji Politik dalam Islam
Hukum berjanji adalah boleh (jaiz) atau disebut juga dengan mubah. Tetapi hukum memenuhi atau menepatinya adalah wajib. Melanggar atau tidak memenuhi janji adalah haram dan berdosa. Berdosanya itu bukan sekadar hanya kepada orang yang kita janjikan tetapi juga kepada Allah swt.
Seperti yang tertulis dalam Al-quran surat An-Nahl ayat 91: “Dan tepatilah perjanjianmu apabila kamu berjanji dan janganlah kamu membatalkan sumpah-sumpah itu, sesudah meneguhkannya, sedang kamu telah menjadikan Allah sebagai saksimu. Sesungguhnya Allah mengetahui apa yang kamu perbuat.”
Janji memang tipe pekerjaan yang sangat ringan, mudah saja dalam pengucapannya, namun besar konsekuensinya jika tidak bisa ditepati, apalagi janji kepada rakyat. Akibatnya bisa dilihat pada kericuhan yang terjadi pada kantor gubernur Aceh jumat (27/12). Persoalannya tidak jauh-jauh dari kata janji.
Padahal dalam Alquran sudah ditegaskan bahwa ingkar janji merupakan perbuatan setan, setan itu memberikan janji-janji kepada mereka dan membangkitkan angan-angan kosong, padahal setan itu tidak menjanjikan hal itu melainkan tipuan belaka (An-Nisa:120). Menepati janji adalah bagian dari iman. Barangsiapa yang tidak menjaga perjanjiannya maka tidak ada agama baginya. Maka seperti itu pula ingkar janji, termasuk tanda kemunafikan.
Harapan Rakyat
Harapan dari rakyat, jadilah pemimpin yang amanah, sesungguhnya kami tak pernah menginginkan pemimpin yang munafik, kami menginginkan pemimpin yang mampu bertanggung jawab atas segala janji-janji, pemimpin yang arif dan bijaksana, pemimpin yang mampu menciptakan lapangan kerja bukan menciptakan “massa proposal”. Sadarlah para pemimpin, sebelum rakyat menyadarkanmu dengan caranya sendiri.
Kesejahteraan rakyat bergantung pada kemuliaan hati sang pemimpin. Rakyat ingin menjalin kemesraan yang dapat membuat iri daerah lain, bukan dengan pertikaian yang dapat membuat orang lain tertawa. Rakyat tidak butuh pemimpin yang mampu merangkai indahnya janji-janji menjadi mimpi, melainkan pemimpin yang mampu membuat janji menjadi nyata.

Zulia Zahara
Alumni Ilmu Komunikasi UNIMAL
zuliazahara@yahoo.co.id

Hubungan Manusiawi


1. Jelaskan bahasa yang kuat dan bahasa yang lemah dan terangkan dengan gaya percakapan!

 

Gaya bahasa berdasarkan kuat dan lemahnya nada

Gaya bahasa berdasarkan nada didasarkan pada sugesti yang dipancarkan dan rangkaian kata-kata yang terdapat dalam sebuah wacana. Sering kali sugesti ini akan lebih nyata kalau diikuti dengan sugesti suara dan pembicara, bila sajian yang dihadapi adalah bahasa lisan.

Dengan latar belakang ini gaya bahasa dilihat dan sudut nada yang terkandung dalam sebuah wacana, dibagi atas: gaya yang sederhana, gaya mulia dan bertenaga, serta gaya menengah.

  1. a.      Gaya Sederhana

Gaya ini biasanya cocok untuk memberi instruksi, perintah, pelajaran, perkuliahan, dan sejenisnya.


       b. Gaya Mulia dan Bertenaga

Sesuai dengan namanya, gaya ini penuh dengan vitalitas dan energi, Ia biasanya dipergunakan untuk menggerakkan sesuatu. Menggerakkan sesuatu tidak saja dengan mempergunakan tenaga dan vitalitas pembicara, tetapi juga dapat mempergunakan nada keagungan dan kemuliaan. Tampaknya hal ini mengandung kontradiksi, tetapi kenyataannya memang demikian. Nada yang agung dan mulia akan sanggup pula menggerakkan emosi setiap pendengar. Dalam keagungan, terselubung sebuah tenaga yang halus tetapi secara aktif ia meyakinkan bekerja untuk mencapai suatu tujuan tertentu. Khotbah tentang kemanusiaan dan keagamaan, kesusilaan dan ketuhanan biasanya disampaikan dengan nada yang agung dan mulia. Tetapi di balik keagungan dan kemuliaan itu terdapat tenaga penggerak yang luar biasa, tenaga yang benar-benar mampu menggetarkan emosi para pendengar atau pembaca.

  1. c.       Gaya Menengah

Gaya menengah adalah gaya yang diarahkan kepada usaha untuk menimbulkan suasana senang dan damai. Karena tujuannya adalah menciptakan suasana senang dan damai, maka nadanya juga bersifat lemah-lembut, penuh kasih sayang, dan mengandung humor yang sehat. Pada kesempatan-kesempatan khusus seperti pesta, pertemuan, dan rekreasi, orang lebih menginginkan ketenangan dan kedamaian. Akan ganjillah rasanya, atau akan timbul disharmoni, kalau dalam suatu pesta pernikahan ada orang yang memberi sambutan berapi-api, mengerahkan segala emosi dan tenaga untuk menyampaikan sepatah kata. Para hadirin yang kurang waspada akan turut terombang-ambing dalam permainan emosi semacam itu.

 

Hubungan bahasa yang kuat dan lemah dengan gaya bahasa percakapan

Sejalan dengan kata-kata percakapan, terdapat juga gaya bahasa percakapan. Dalam gaya bahasa ini, pilihan katanya adalah kata-kata populer dan kata-kata percakapan. Namun di sini harus ditambahkan segi-segi morfologis dan sintaksis, yang secara bersama-sama membentuk gaya bahasa percakapan ini. Biasanya segi-segi sintaksis tidak terlalu diperhatikan, demikian pula segi-segi morfologis yang biasa diabaikan sering dihilangkan. Kalau dibandingkan dengan gaya bahasa resmi dan gaya bahasa tak resmi, maka gaya bahasa percakapan ini dapat diumpamakan sebagai bahasa dalam pakaian sport. Itu berarti bahasanya masih lengkap untuk suatu kesempatan, dan masih dibentuk menurut kebiasaan-kebiasaan, tetapi kebiasaan ini agak longgar bila dibandingkan dengan kebiasaan pada gaya bahasa resmi dan tak resmi.

 

2. Apakah yang dimaksud dengan metakomunikasi dan berikan contohnya?

 

            Metakomunikasi yaitu berkomunikasi tentang komunikasi. Konsep ini erat kaitannya dengan tingkat hubungan interaksi manusia. Contoh metakomunikasi yang bisa dilihat salah satunya yaitu pada komentar seorang dosen pada mahasiswanya yang sedang berpidato serta isi pidato yang dibicarakannya, “saya pikir contoh yang kamu berikan amat bagus”, sebaiknya anda mengungkapkan gagasan utama anda secara lebih eksplisit”, dan cobalah agak lebih bersemangat”. Selain itu metakomunikasi :

  • Merupakan uraian yang menggambarkan hubungan antara komunikator dan komunikan saat melakukan komunikasi. Metakomunikasi dapat berupa pesan verbal dan non verbal. Contohnya dengan tetap tersenyum walaupun sedang marah
  • Metakomunikasi adalah suatu komentar terhadap isi pembicaraan dan sifat hubungan antara yang berbicara, yaitu pesan di dalam pesan yang menyampaikan sikap dan perasaan pengirim terhadap pendengar.

            Konsep metakomunikasi dapat diilustrasikan sebagai berikut, anda dapat berkomunikasi tentang semua hal yang ada di dunia tentang meja dan kursi dimana anda sedang duduk didepan komputer yang sedang anda gunakan, atau tentang bagian yang sedang anda baca sekarang, dan bahasa yang anda gunakan sekarang adalah bahasa pemrograman. Kita sebut saja semua ini sebagai objek komunikasi, karena anda berbicara mengenai berbagai objek. Tapi perlu diperhatikan juga bahwa anda tidak terbatas untuk berbicara tentang objek, anda juga bisa berbicara tentang berbicara anda, anda bisa berkomunikasi tentang komunikasi anda, sehingga semua aktivitas ini dapat disebut sebagai metakomunikasi. Dengan cara yang sama, anda pun bisa berkomunikasi menggunakan bahasa lainnya (meta-bahasa) untuk berbicara tentang bahasa dengan menggunakan bahasa pemrograman.

            Perbedaan antara objek komunikasi dan meta-komunikasi bukan hanya secara keilmuan, hal itu sangatlah terlalu sederhana, oleh karena perlu diketahui bahwa perbedaan diantara kedua bentuk komunikasi tersebut sangat penting dipahami guna menghindari berbagai kerancuan dan konflik dari berbagai interaksi komunikasi interpersonal.

            Sebenarnya, Kita menggunakan perbedaan ini setiap hari, namun tidak menyadarinya. Misalnya, ketika Kita mengirim komentar di sebuah forum jejaring sosial kepada seseorang dengan komentar bernada sinis namun kemudian meletakkan smiley di akhir komentar. Dengan mengkomunikasikan smiley, bagi komunikan dapat dimaknai sebagai “pesan yang tidak dipahami secara harfiah, melainkan dapat dipahami bahwa dalam pesan tersebut komunikator sedang mencoba menyampaikan humor.” Dengan demikian kedudukan smiley adalah sebagai metapesan, merupakan pesan tentang pesan.

 

3. sebutkan tiga cara yang mengaitkan pesan verbal dan pesan non verbal.

Pesan Verbal :

Pesan verbal adalah pesan yang menggunakan bahasa, ucapan (kata-kata). Karena itu, pesan verbal terikat dengan aturan bahasa (struktur, grammar, dll)

Prinsip dasar :

  • Setiap orang punya makna sendiri
  • Makna pesan tergantung pada konteksnya
  • Pesan dipengaruhi oleh budaya
  • Bahasa selalu memiliki makna denotatif dan konotatif

Pesan Non-Verbal :

Pesan non-verbal adalah pesan yang tidak menggunakan bahasa ucapan (kata-kata).

Ragam bentuk berdasarkan mediumnya :

  • Body language : gerakan dan bentuk fisik.
  • Facial : ekspresi wajah.
  • Mata : kontak dan fokus.
  • Ruang : jarak antar pelaku.
  • Artefak : penampilan dan dekorasi.
  • Sentuhan : dominasi dan kedekatan
  • Paralanguage : pilihan kata dan intonasi
  • Diam komunikasi
  • Pemilihan dan alokasi waktu
  • Aroma dan wewangian

Kaitan pesan verbal dan non verbal

Secara teoritis pesan nonverbal dan pesan verbal dapat dipisahkan. Namun dalam kenyataannya, kedua jenis komunikasi ini saling jalin menjalin, saling melengkapi dalam komunikasi yang kita lakukan sehari-hari.pesan nonverbal yang dihubungkan dengan pesan verbal:

  • Repetisi, yaitu mengulang kembali gagasan yang sudah disajikan secara verbal. Misalnya setelah mengatakan penolakan saya, saya menggelengkan kepala.
  • Substitusi, yaitu menggantikan lambang-lambang verbal. Misalnya tanpa sepatah katapun kita berkata, kita menunjukkan persetujuan dengan mengangguk-anggukkan kepala.
  • Kontradiksi, menolak pesan verbal atau memberi makna yang lain terhadap pesan verbal. Misalnya anda ’memuji’ prestasi teman dengan mencibirkan bibir, seraya berkata ”Hebat, kau memang hebat.”
  • Komplemen, yaitu melengkapi dan memperkaya makna pesan nonverbal. Misalnya, air muka anda menunjukkan tingkat penderitaan yang tidak terungkap dengan kata-kata.
  • Aksentuasi, yaitu menegaskan pesan verbal atau menggarisbawahinya. Misalnya, anda mengungkapkan betapa jengkelnya anda dengan memukul meja.

 

4.  kategori komunikasi yang berhubungan dengan komunikasi verbal dan vokal!

 

Tiga ciri utama yang menandai wujud atau bentuk komunikasi verbal dan nonverbal.

  • Lambang-lambang non-verbal digunakan paling awal sejak kita lahir di dunia ini, sedangkan setelah tumbuh pengetahuan dan kedewasaan kita, barulah bahasa verbal kita pelajari.
  • Komunikasi verbal dinilai kurang universal dibanding komunikasi non-verbal. Bila kita pergi ke luar negeri misalnya dan kita tidak mengerti bahasa yang digunakan oleh masyarakat di negara tersebut, kita bisa menggunakan isyarat-isyarat non-verbal dengan orang-orang yang kita ajak berkomunikasi.
  • Komunikasi verbal merupakan aktivitas yang lebih intelektual dibanding dengan bahasa non-verbal yang lebih merupakan aktivitas emosional. Artinya, bahwa dengan bahasa verbal, sesungguhnya kita mengkomunikasikan gagasan dan konsep-konsep yang abstrak, sementara melalui bahasa nonverbal, kita mengkomunikasikan hal-hal yang berhubungan dengan kepribadian, perasaan dan emosi yang kita miliki.

v  Tipe-tipe komunikasi berikut ini :

 

 

 

 

Sumber : Ronald B. Adler, George Rodman, Understanding Human Communication, Second edition, hal. 96

 

Tabel tipe-tipe komunikasi diatas dapat dibaca sebagai berikut: komunikasi verbal yang termasuk dalam komunikasi vokal adalah bahasa lisan, sedang yang tergolong dalam komuikasi non-vokal adalah bahasa tertulis. Sementara komunikasi non-verbal yang termasuk dalam komunikasi vokal adalah nada suara, desah, jeritan dan kualitas vocal; dan yang termasuk dalam klasifikasi komunikasi non-vokal adalah isyarat, gerakan (tubuh), penampilan (fisik), ekspresi wajah dan sebagainya. Atau kita dapat membaca tabel diatas secara terbalik, diawali dengan komunikasi vokal dan non-vokal terlebih dahulu.

 

5. Jelaskan bagaimana sentuhan dapat mempengaruhi ikatan hubungan, ketundukan, dan penyikapan diri ?

            Sentuhan merupakan salah satu alat kita yang paling penting untuk komunikasi non verbal. Heslin dan Alper (1983) menunjukkan bahwa disamping berperan dalam pemeliharaan dan perawatan, sentuhan juga digunakan untuk menunjukkan suatu hubungan professional (misalnya, disentuh oleh tukang cukur), hubungan sosial (berjabat tangan), persahabatan (menyentuh lengan atas), keakraban (pelukan). Dalam setiap contoh diatas, sentuhan merupakan sikap memperteguh ikatan hubungan. Sentuhan meningkatkan penyikapan diri dan kerelaan. Pengaruhnya ditunjukkan dalam beberapa penelitian, misalnya subjek yang lengannya disentuh perlahan, tampaknya lebih cenderung mengabulkan permohonan dibandingkan dengan subjek yang tidak disentuh (Willis dan Hann, 1980). Penghindaran sentuhan merupakan petunjuk yang baik adanya jarak antarpesona, khususnya bila pihak yang lainnya seorang wanita. Jadi dalam contoh ini, kita melihat dua sandi atau pesan nonverbal berinteraksi (Anderson dan Sull, 1985).

            Sebaliknya dalam budaya kita, jabatan tangan yang lemah biasanya menghasilkan perasaan negatif, orang Amerika menafsirkan ini sebagai kurang berminat atau kurang bergairah. Tangan yang lembab dianggap sebagai kegugupan, khususnya bila jabatan tangan ini mengawali suatu keadaan yang dapat menegangkan seperti suatu wawancara. Sentuhan penting bagi perkembangan psikologi dan fisik anak, dan bagi kondisi emosi orang dewasa. Kemampuan untuk menyentuh manusia lainnya tampak berkaitan dengan penghargaan diri, ketundukan, dan kemampuan bersosialisasi.

                  Ketundukan (Compliance) merupakan suatu perilaku yang sebagai persetujuan atas permintaan orang lain. Memang di dalam mengabulkan permintaan orang lain bisa disebabkan karena adanya kekuatan sosial, adakalanya seseorang itu mengabulkan permintaan tanpa alasan tertentu. Artinya, dia hanya ingin memberi dan kalau ada permintaan. Keadaan seperti ini disebut Mindlessness (kerelaan tanpa pamrih).

                  Menurut Equity Theory (Teori Tentang Keadilan), hubungan interpersonal cenderung terbentuk oleh adanya perasaan bahwa mereka itu diperlakukan secara fair (adil). Apabila kita tertarik pada seseorang, kita akan berbuat sesuatu yang disukainya. Orang akan mengabulkan permintaan apabila sedang senang hatinya. Perasaan senang berkaitan dengan moodnya pada saat itu. Pendapat ini terbukti dalam penelitian oleh Regan (1971) yang menemukan apabila orang itu dalam masalah, cenderung menolak permintaan, sebaliknya apabila dia dalam situasi rileks/menyenangkan, cenderung mengabulkan permintaan.

Salah satu teknik mendapatkan ketundukan adalah teknik sentuhan. Pernah diteliti oleh Smith (1992). Kepada calon pembeli ditawarkan suatu produk makanan dengan jalan memberi kesempatan kepada calon pembeli untuk mencicipi makanan itu. Selama memberi sampel makanan, sebagian orang disentuh tangannya dan diminta untuk membeli sedangkan sebagian lagi tidak disentuh tangannya namun diminta untuk membeli. Hasilnya menunjukkan bahwa kelompok yang disentuh tangannya lebih banyak membeli daripada yang tidak disentuh tangannya. Dari contoh di atas, dapat di tarik kesimpulan bahwa sentuhan dapat mempengaruhi ketundukan seseorang untuk patuh pada apa yang kita komunikasikan

Selain itu, hasil penelitian Haslett (1987), dalam penyingkapan diri menunjukkan 3 hal, bahwa:

  • Orang-orang lebih percaya (senang) menyingkapkan diri mereka secara sungguh-sungguh kepada orang yang mereka sukai.
  • Orang-orang cenderung melebih-lebihkan penyingkapan diri mereka.
  • Penyingkapan diri tidak menyebabkan rasa suka. Tapi suka menghambat  penyingkapan diri.

Ringkasnya meluruskan jiwa seseorang dapat dilakukan dengan  memperbaiki (meluruskan) caranya berkomunikasi.

 

6. Jelaskan bagaimana pilihan seseorang atas objek fisik dapat mengomunikasikan pesan kepada orang lain ?

 

Di dalam istilah komunikasi ada yang namanya komunikasi verbal dan non verbal. Komunikasi verbal merupakan proses komunikasi melalui bahasa dan kata-kata yang diucapkan. Sedangkan komunikasi non verbal adalah proses komunikasi dimana pesan disampaikan tidak menggunakan kata-kata. Jadi, objek fisik sudah tentu termasuk ke dalam komunikasi nonverbal. Contohnya : menggunakan gerak isyarat, bahasa tubuh, ekspresi wajah dan kontak mata, penggunaan objek seperti pakaian, potongan rambut, dan sebagainya, simbol-simbol, serta cara berbicara seperti intonasi, penekanan, kualitas suara, gaya emosi, dan gaya berbicara.

Jadi pilihan seseorang atas objek fisik dapat mengomunikasikan pesan dengan orang lain tidak akan terlepas dengan cara seseorang menyampaikan pesan nonverbal kepada orang lain. Yaitu kita harus mengetahui bgaimana seseorang memilih objek fisik sebagai penyampaian pesan tidak lain dikerenakan pentingnya komunikasi nonverbal dalam kehidupan sehari-hari.

Hal ini sesuai dengan pernyataan dari Leathers (1976):

1. Faktor-faktor non-verbal sangat menentukan makna dalam komunikasi interpersonal. Ketika kita mengobrol atau berkomunikasi tatap muka, kita banyak menyampaikan gagasan dan pikiran kita lewat pesan-pesan non-verbal. Pada gilirannya orang lain pun lebih banyak membaca pikiran-pikiran kita lewat petunjuk-petunjuk non-verbal. Menurut Birdwhistell tidak lebih dari 30%-35% makna sosial percakapan atau interaksi dilakukan dengan kata-kata, dan sisanya dilakukan dengan pesan non-verbal.

2. Perasaan dan emosi lebih cermat disampaikan lewat pesan non-verbal ketimbang pesan verbal. Menurut Mahrabian (1967), hanya 7% perasaan kasih sayang dapat dikomunikasikan dengan kata-kata. Selebihnya, 38% dikomunikasikan lewat suara, dan 55% dikomunikasikan melalui ungkapan wajah (senyum, kontak mata, dan sebagainya).

3. Pesan non-verbal menyampaikan makna dan maksud yang relatif bebas dari penipuan, distorsi, dan kerancauan. Pesan non-verbal jarang dapat diatur oleh komunikator secara sadar. Misalnya sejak zaman prasejarah, wanita selalu mengatakan “tidak” dengan lambing verbal, tetapi pria jarang tertipu. Mereka tahu ketika “tidak” diucapkan, seluruh anggota tubuhnya menyatakan “ya”. Kecuali actor-aktor yang terlatih, kita semua lebih jujur berkomunikasi melalui pesan non-verbal. Hal yang kadang kemudian terjadi adalah double binding dimana ketika pesan non-verbal bertentangan dengan pesan verbal, orang pada akhirnya akan bersandar pada pesan non-verbal.

4. Pesan non-verbal mempunyai fungsi metakomunikatif yang sangat diperlukan untuk mencapai komunikasi yang berkualitas tinggi. Fungsi metakomunikatif artinya memberikan informasi tambahan yang memperjelas maksud dan makna pesan. Di atas telah dipaparkan mengenai fungsi repetisi, substitusi, kontradiksi, komplemen, dan aksentuasi. Semua ini menambah kadar informasi dalam penyampaian pesan.

5. Pesan non-verbal merupakan cara berkomunikasi yang lebih efisien dibandingkan dengan pesan verbal. Dari segi waktu, pesan verbal sangat tidak efisien. Dalam paparan verbal selalu terdapat redundansi (lebih banyak lambang dari yang diperlukan), repetisi, ambiguity, dan abstraksi. Diperlukan lebih banyak waktu untuk mengungkapkan pikiran kita secara verbal daripada secara nonverbal.

6. Pesan non-verbal merupakan sarana sugesti yang paling tepat. Ada situasi komunikasi yang menuntut kita untuk mengungkapkan gagasan atau emosi secara tidak langsung. Sugesti di sini dimaksudkan menyarankan sesuatu kepada orang lain secara implicit. Leathers (1976) menyatakan bahwa jika anda meminta pelayanan seksual dari anak di bawah umur secara verbal, anda dapat menerima hukuman pernjara. Jika anda melakuka hal yang sama secara non-verbal, anda bebas dari hukuman. Kita dapat memuji seseorang secara verbal, tetapi mengecamnya secara non-verbal. Inipun sulit dituntut secara hukum.

 

7. jelaskan apa yang dimaksud dengan paralinguistic dan berikan beberapa contoh isyarat paralinguistic!

 

Paralinguistik adalah studi tentang penggunaan suara dan vokalisasi (misalnya membesarkan dan mengecilkan suara). AdalahTrage r yang memperkenalkan mengenai teori paralinguistik. Paralinguistik adalah jenis komunikasi yang berkaitan dengan cara bagaimana seseorang mengucapkan atau menyampaikan pesan. Paralinguistik dapat menunjukkan bagaimana suatu pembicaraan disampaikan sekaligus menunjukkan tentang keadaan emosi dan sikapnya. Di sini ada beberapa isyarat vokal yang dapat disimak oleh pendengarnya, antara lain meliputi tingkat suara atau intonasi suara dan lancar tidaknya

berbicara. Contoh Paralinguistik:

a.       Volume suara

Volume suara yang harus diperhatikan adalah:

1. Suara yang berbisik dan lemah akan sulit didengar. Hal ini menunjukkan pribadi orang yang sulit membuka diri, susah mengutarakan perasaan, atau pemalu.

2. Suara yang selalu berubah-ubah volumenya menunjukkan kesulitan, keraguan, atau merasa kurang mampu dalam membicarakan suatu topik yang sedang dibahas.

b.       Kelancaran berbicara

Kelancaran berbicara yang harus diperhatikan adalah:

1. Kelancaran dalam berbicara menunjukkan kesiapan dan penguasaan materi yang sedang dibicarakan.

2. Sering gagap dan ragu menunjukkan ketidaktenangan, atau peka terhadap materi pembicaraan.

3. Apabila berbicara disertai keluhan atau tersendat dan memandang orang yang disegani menunjukkan adanya tekanan emosional atau ketergantungan kepada pihak lain.

4. Sering diam pada saat berbicara menunjukkan kesulitan dalam merangkai atau menyampaikan kata-kata yang tepat, atau mungkin sedang enggan berbicara.

 

Paralinguistik merupakan batas antara interaksi verbal dengan non-verbal. Trager membagi tanda-tanda paralinguistik atas empat bentuk, yaitu :

  1. Kualitas suara, termasuk tanda-tanda tinggi atau rendahnya suatu letupan suara, kualitas dari tekanan (keras, lembut, serius, santai) dan irama tertentu.
  2. Ciri-ciri vokal, termasuk bunyi suara waktu orang sedang tertawa, menangis, berteriak, menguap, meludah, mengisap sesuatu.
  3. Pembatasan vokal, misalnya ragam yang terlihat dalam setiap kata dan frase.
  4. Pemisahan vokal, termasuk faktor-faktor yang mengandung irama yang mempunyai kontribusi tahap pembicaraan.Gambar

KISAH SANG DOKTER MUDA


oleh: Zulia Zahara

26 desember 2004 mungkin akan menjadi tanggal yang tidak akan terlupakan oleh seluruh masyarakat Aceh bahkan dunia. Karena pada hari itu sebuah tragedi maha dahsyat menggemparkan dunia yaitu gempa dan tsunami, ratusan ribu nyawa melayang dan hilang ditelan kedalam dasar samudra. Termasuk didalamnya seluruh anggota keluarga dari Sandi (22), pada saat kejadian itu dia masih duduk di bangku kelas III SMP. Sandi panggilan akrabnya merupakan anak pertama dari tiga bersaudara. Pada saat tsunami melanda seluruh keluarga Sandi  hilang tanpa ditemukan jasadnya. Sandi  ditemukan oleh guru sekolahnya di bawah jembatan Peunayong selang beberapa jam setelah tsunami melanda. Dengan tubuh penuh luka goresan kaca dan seng, Sandi  diungsikan ke Lhokseumawe oleh pamannya.

Luka sayatan dan rasa perih yang ada di tubuhnya menjadi lebih menyakitkan  ketika mengetahui bahwa jasad orang tua dan adik-adiknya tidak dapat ditemukan setelah dua minggu berlalu pasca tsunami. Hebatnya, dia mampu untuk menyembunyikan kedukaan yang sangat mendalam selama berada di kota yang tak pernah dia datangi itu, karena ia merasa tidak ingin membuat lautan kesedihan bagi keluarga yang merangkulnya. Dengan susah payah dia mulai menata keterpurukannya, Ujian Nasional sudah di ambang pintu siap menguji siswa-siswa yang telah meluangkan waktu selama tiga tahun. Sandi  dengan segala kecamuk yang ada di dada mulai mengingat dan mempelajari semua yang pernah dia dapatkan ketika berada di sekolahnya dahulu. Namun cobaan masih mau untuk menguji kesabarannya, dia dinyatakan tidak lulus pada saat itu, wajar bagi orang-orang sekitarnya yang melihat akan hal tersebut, ketika menilik apa yang telah dia alami selama ini. Dan yang membuat orang-orang terharu dan bertambah simpatik ketika melihat ketabahan yang ada dalam diri Sandi , dia masih tetap tersenyum dan ceria tanpa ada raut sedih di wajahnya. “Alhamdulillah, Allah masih sayang sama Sandi ” ujarnnya. Kata-kata syukur tak pernah hilang dari bibirnya.

Air mata pertama pernah jatuh dipipinya ketika merayakan hari raya Qurban. Ini merupakan hari raya yang sangat menyedihkan bagi masyarakat Aceh khususnya Sandi , jika pada lebaran Idul Fitri dia masih bisa bersimpuh di kaki ibu dan ayahnya, mencium adik-adiknya serta menikmati lontong kesukaan buatan ibunya, namun pada saat itu ia hanya dapat bersimpuh di lutut Pakwa dan neneknya. Dengan menundukkan wajah dia berusaha menyembunyikan air mata pilu, namun tak sanggup terbendung lagi ketika ia memeluk neneknya dan menumpahkan segala kesedihan serta duka yang dia rasakan, seisi rumah mengharu biru menyaksikan adegan yang menguras emosi jiwa yang ada.

Langit esok masih sangat begitu cerah, serpihan luka jiwa dan raga sedikit demi sedikit mulai bisa di tata kembali. Harapan besar yang pernah mati mulai bersemi lagi, dukungan-dukungan yang ada sangat berarti bagi setiap orang yang merasa sepi. Dengan segenap perjuangan yang ada, Sandi  berhasil lulus dari SMP N 1 Lhokseumawe dan diterima di Fatih Bilingual School Banda Aceh. Dengan tekad yang kuat dia kembali ke kampung halamannya, sangat berat baginya untuk pulang, yang tentunya dia harus menguak luka lagi, rindu akan kebersamaan dengan keluarganya tercinta, jika waktu bisa di ulang kembali, dia sangat ingin berbakti lagi dengan orang tuanya. Penyesalan memang selalu datang terlambat.

Perjuangan masih panjang, tak ada waktu untuknya terus berkeluh kesah akan nasib. Cara untuk membahagiakan orang tua, hanya dengan doa dan prestasi. Tiga tahun bertarung dengan ratusan orang-orang terpilih di sekolah, akhirnya ia menjadi salah satu dari dua puluh orang siswa yang berprestasi, dan mendapat kesempatan untuk mengunjungi negara Turki. Sandi  dan kawan-kawan bersama dengan abi (sapaan untuk guru yang berasal dari Turki) jalan-jalan dan mengunjungi setiap universitas yang ada di sana, mereka juga mendapat undangan untuk melanjutkan sekolah disana. Tuhan memang maha adil, Sandi  menuai rahmat dari setiap perjuangan dan kesabarannya.

Tujuh tahun telah berlalu, Aceh telah menjadi normal kembali, kota-kota yang dulu hancur, kini telah dijamuri dengan gedung-gedung mewah yang dulu tak pernah ada. Kesemrautan kota metropolitan yang hanya terlihat di televisi kini hadir di kota Banda Aceh, segala perubahan nampak jelas dari setiap sudut kota, namun hal itu tidak ikut mengubah pribadi seorang Sandi , dia masih seperti dulu, tetap sabar dan bersahaja, walupun timbunan lemak kini ada di setiap likuk tubuhnya. Mei 2012 nanti akan muncul sedikit selipan di balik namanya menjadi Dr. Sandi , dokter muda ini lulusan dari fakultas kedokteran, Universitas Syiah Kuala, Banda Aceh. Sebuah keberhasilan yang lahir dari setiap pengorbanan dan ketabahan seorang anak yatim piatu, yang mampu menghidupi dirinya sendiri dan membawanya ke pintu kesuksesan. Hal ini membuktikan bahwa keterbatasan yang ada, tidak dapat menghentikan langkah seseorang untuk meraih kesuksesan. Semuanya harus diiringi dengan perjuangan, doa dan tawakkal. Cahaya kesempatan pasti akan menghampiri kita, jika kita mau berusaha. Allah tidak menguji suatu kaum diluar kemampuan kaum tersebut.

Selebrasi Ujian Nasional


oleh: Zulia Zahara

Sabtu (26/5) merupakan hari yang sangat mendebarkan bagi siswa-siswi SMA/MA/SMK sederajat yang ada di Indonesia, khususnya daerah Aceh. Betapa tidak, segala jerih payah dan beragam upaya yang telah dilakukan selama tiga tahun, akan diumumkan pada hari tersebut, baik itu kata lulus ataupun tidak lulus.

Seperti yang telah diberitakan di harian Serambi, minggu (27/5). Bahwasannya tingkat kelulusan di Aceh mencapai 99%, hal ini mengalami peningkatan sebesar 0,26% dibandingkan tahun ajaran 2010/2011. Tentu merupakan hal yang sangat menggembirakan bagi mereka yang lulus, dan hal yang sangat menyedihkan jika ada beberapa dari mereka yang dinyatakan tidak lulus dan harus mengikuti ujian ulang alias Paket C.

Ujian Nasional (UN) merupakan suatu agenda pendidikan tahunan, yang bertujuan untuk memberikan evaluasi bagi setiap pelajar yang telah memenuhi syarat untuk menyelesaikan masa pendidikan di suatu sekolah. Selain itu UN ini juga memiliki tujuan untuk membenahi mutu pendidikan. Walaupun terkesan pelaksanaan UN ini malah merusak mutu pendidikan.

Setelah melihat papan pengumuman dan dinyatakan lulus, para pelajar langsung melakukan beragam atraksi dan kegiatan, untuk meluapkan segala rasa yang ada di hati. Seperti yang pernah saya lihat di beberapa foto yang ada di surat kabar, yang menggambarkan beberapa ekspresi para pelajar yang telah melihat hasil UN, ada yang melakukan corat-coret di pakaian, namun ada pula yang melakukan pengajian di mesjid sebagai luapan rasa syukur. Perbedaan inilah yang membuat saya sedikit tercengang. Pasalnya ketika zaman sekolah saya dulu budaya coret-coret seragam sekolah itu masih terlihat sangat tabu, dan sangat aneh jika dilakukan bahkan tidak ada. Namun kini, hal yang terkesan mubazir itu sudah termasuk dalam salah satu budaya baru bagi pelajar yang ada di daerah serambi mekkah ini.

Hal tersebut tentu sangat miris bagi para generasi muda Aceh yang dengan mudahnya terkontaminasi budaya luar dan jauh dari norma budaya yang ada di Aceh. Apakah budaya yang buruk seperti ini akan terus mengakar di setiap generasi yang ada di Aceh?, tentu kita tidak berharap itu terjadi. Jangankan di Aceh, hampir seluruh daerah yang ada di Indonesia juga melarang hal buruk ini.

Maka dibutuhkan solusi untuk membuat hal ini tidak terulang lagi di tahun-tahun selanjutnya, peran orang tua dan tenaga pendidik sangat penting terhadap pola pengembangan perilaku positif maupun negative, dimana ketika orang tua dapat mengarahkan kearah yang baik maka perilaku positif akan muncul, namun sebaliknya apabila orang tua mengarahkan kearah yang tidak baik maka perilaku negative yang akan di perlihatkan oleh pelajar.

Tentu hal ini membutuhkan perhatian penuh dari semua pihak tidak hanya orang tua, agar kedepan setiap pelajar Aceh yang merayakan kelulusan dapat melakukan sesuai dengan budaya Aceh yang menjunjung tinggi agama, baik dengan cara berdoa bersama maupun dengan hal melakukan sujud syukur. Karena pelajar sekarang, mereka mudah terpengaruhi akan hal-hal yang mereka anggap gaul, seperti mencoret-coret seragam sekolah. Padahal jika mereka mau berpikir panjang, seragam-seragam terebut bisa disumbangkan untuk orang-orang yang membutuhkan. Namun disini, pihak orang tua sendirilah yang merupakan peran awal yang sangat penting untuk menjaga perilaku sang buah hati, agar tidak mudah terjerumus. Apalagi di era globalisasi saat ini, semua kebudayaan yang tidak sesuai dengan kebiasaan kita dengan mudah masuk tanpa permisi dan siap menerkam siapa saja yang tidak  mampu membentengi diri ataupun mudah teperdaya dengan hal-hal baru, apalagi orang-orang yang tidak ingin di cap kampungan, udik, deso, dan istilah lainnya.

Semoga saja, di tahun-tahun berikutnya pelajar Indonesia khususnya Aceh, bisa mengubah pola pikir mereka. Karena tidak semua tradisi yang ada bisa diadopsi begitu saja. Dibutuhkan pemikiran yang panjang, agar setiap hal yang baru itu bisa bermanfaat bagi diri sendiri dan orang lain.

Dampak Fight Acting Sang Idola Terhadap Perilaku Anak


Tayangan kekerasan berpengaruh terhadap pola prilaku anak. beberapa efek yang di timbulkan oleh tayangan di antaranya sebagai berikut:

 

a. Jadi Agresor dan Tak Pedulian

Di Indonesia belum ada penelitian mengenai pengaruh tayangan kekerasan terhadap perilaku anak. Ini tentu membuat semakin sulit untuk mengatakan bahwa tayangan televisi berpengaruh terhadap perilaku anak. Sementara, meski masih simpang siur, peneliti di luar sudah menyimpulkan ada korelasi – untuk tidak menyebut penyebab – antara tayangan kekerasan dengan perilaku anak. Sebuah survai pernah dilakukan Christian Science Monitor (CSM) tahun 1996 terhadap 1.209 orang tua yang memiliki anak umur 2 – 17 tahun. Terhadap pertanyaan seberapa jauh kekerasan di TV mempengaruhi anak, 56% responden menjawab amat mempengaruhi. Sisanya, 26% mempengaruhi, 5% cukup mempengaruhi, dan 11% tidak mempengaruhi.

b.     Nonton untuk pelarian

Tapi, benarkah agresivitas anak-anak terjadi hanya karena tayangan kekerasan di layar kaca? “Pada dasarnya setiap manusia itu mempunyai sifat agresif sejak lahir,” ungkap Fawzia. Sifat ini berguna dalam bertahan hidup. Tanpa agresivitas, anak tidak akan bereaksi jika mendapat rangsangan yang mengancamnya. Tetapi, tanpa pengarahan yang baik, sifat itu bisa merusak.
Menurut psikolog dari Universitas Stanford, Albert Bandura, respons agresif bukan turunan, tetapi terbentuk dari pengalaman. Ada permainan yang dapat memicu agresi. “Orang belajar tidak menyukai dan menyerang tipe individu tertentu melalui pengalaman atau pertemuan langsung yang tidak menyenangkan.”Bayangkan, bila dalam sehari disuguhkan 127 adegan kekerasan, berapa yang akan diterima dalam seminggu, sebulan, atau setahun? Mungkinkah akhirnya si anak merasa, memang “tidak apa-apa” memukul dan menganiaya orang lain?
Hasil survai berikut bisa memberikan gambaran. Rata-rata orang Amerika menonton TV selama 25 – 30 jam per minggu. Dalam penelitian yang melibatkan 100.000 orang sebagai subjek disimpulkan, ada bukti kuat hubungan antara perilaku agresif dan melihat tayangan TV yang bermuatan kekerasan dalam waktu lama (ekstensif).

Padahal, penelitian menunjukkan, menonton TV berjam-jam secara pasif justru meningkatkan level trauma kejiwaan. “Kegiatan nonton TV berjam-jam tidak menghilangkan rasa tertekan, tapi membuatnya makin parah,” tambah Singer.  Rupanya, ada hubungan antara pilihan program dengan tingkat kemarahan atau agresi. “Anak laki-laki atau perempuan yang memilih program TV dengan banyak aksi dan perkelahian – atau program kekerasan tinggi, memiliki nilai kemarahan yang tinggi dibandingkan anak lainnya. Mereka juga dilaporkan lebih banyak menyerang anak lain,” ujar Singer.

 

Yang menarik, ada hubungan nyata antara kebiasaan menonton TV dengan tingkatan pengawasan orang tua. Pengawasan itu berupa pengenalan orang tua akan teman-teman sang anak, di mana mereka berada sepanjang hari. Selain itu, apakah orang tua juga menetapkan dan menjalankan peraturan pembatasan waktu bermain di luar rumah atau nonton TV.

Anak yang tidak diawasi dengan ketat akan menonton TV lebih banyak dibandingkan anak-anak yang lain. Kelompok ini lebih banyak menonton program aksi dan perkelahian atau video musik. “Sebanyak 58% anak perempuan yang kurang diawasi, lebih memilih program TV berbau kekerasan atau video musik,” ungkap Singer. Singer juga melaporkan, hampir separuh kelompok anak perempuan dengan tingkat kemarahan tinggi punya pikiran untuk bunuh diri. Sedangkan pada kelompok anak laki-laki tipe yang sama merasa takut akan ada orang yang membunuh mereka.

Film laga harus pula dilihat dari aspek positifnya, yaitu bahwa anak membutuhkan figur pahlawan, jagoan, dan heroisme. Di sinilah peran orang tua untuk mengajaknya menarik garis perbedaan antara dunia nyata dan film. Seperti yang dikatakan Madeline Levine, Ph.D., psikolog di Marin County, Kalifornia, “Pada umur sembilan tahun anak baru bisa membedakan antara kenyataan dan fantasi. Majalah Time (12-1-1998) juga memaparkan hasil sebaliknya. Selama tiga tahun peneliti Inggris, Tony Charlton, memantau perilaku 859 anak di pulau terpencil Saint Helena, Atlantik. Ia menemukan, tidak ada perubahan perilaku pada mereka yang menonton TV dari berbagai belahan dunia yang diterima melalui satelit. Tapi jangan-jangan, Charlton tidak memperhatikan populasi penduduk yang hanya 5.600 orang dan letaknya yang terpencil itu?

 

c.      Orang Tua Contoh Model Anak

Dari berbagai kemungkinan masalah yang bisa timbul, tentu peran orang tua tidak bisa diabaikan. Sikap orang tua terhadap TV akan mempengaruhi perilaku anak. Maka sebaiknya orang tua lebih dulu membuat batasan pada dirinya sebelum menentukan batasan bagi anak-anaknya. Biasanya, di kala lelah atau bosan dengan kegiatan rumah, orang tua suka menonton TV. Tetapi kalau itu tidak dilakukan dengan rutin, artinya Anda bisa melakukan kegiatan lain kalau sedang jenuh, anak akan tahu ada banyak cara beraktivitas selain menonton TV.

Masalah jenis program yang ditonton sangat penting dipertimbangkan sebab itu menyangkut masalah kekerasan, adegan seks, dan bahasa kotor yang kerap muncul dalam suatu acara. Kadang ada acara yang bagus karena memberi pesan tertentu, tetapi di dalamnya ada bahasa yang kurang sopan, atau adegan – seperti pacaran, rayuan – yang kurang cocok untuk anak-anak. Maka sebaiknya orang tua tahu isi acara yang akan ditonton anak. Usia anak dan kedewasaan mereka harus jadi pertimbangan. Dalam hal seks, orang tua sebaiknya bisa memberi penjelasan sesuai usia, kalau ketika sedang menonton dengan anak-anak tiba-tiba nyelonong adegan “saru”. Masalah bahasa pun perlu diperhatikan agar anak tahu mengapa suatu kata kurang sopan untuk ditiru. Orang tua bisa menjelaskannya sebagai ungkapan untuk keadaan khusus, terutama di TV untuk mencapai efek tertentu.

 

d.     Waktu Ideal Untuk Anak-Anak Menonton TV

Kapan dan berapa lama anak boleh menonton TV, semua itu tergantung pada cara sebuah keluarga menghabiskan waktu mereka bersama. Bisa saja di waktu santai sehabis makan malam bersama, atau justru sore hari. Anak yang sudah bersekolah harus dibatasi, misalnya hanya boleh menonton setelah mengerjakan semua PR. Berapa jam? Menurut Jane Murphy dan Karen Tucker – produser acara TV anak-anak dan penulis – sebaiknya tidak lebih dari dua jam sehari, itu termasuk main komputer dan video game. Untuk anak yang belum bersekolah atau sering ditinggal orang tuanya di rumah, porsinya mungkin bisa sedikit lebih banyak.
Memberikan batasan apa, kapan, dan seberapa banyak menonton acara TV juga akan mengajarkan pada anak bahwa mereka harus memilih (acara yang paling digemari), menghargai waktu dan pilihan, serta menjaga keseimbangan kebutuhan mereka.
Agar sasaran tercapai, disiplin dan pengawasan orang tua mutlak diperlukan. Sayangnya, unsur pengawasan ini yang sering jadi titik lemah orang tua yang sibuk dengan pekerjaan sehari-hari di kantor. “Untuk itu, orang tua memang dituntut untuk cerewet. Tidak apa-apa agak cerewet, demi kebaikan anak-anak,” ujar Fawzia. Kekerasan memang sulit dipisahkan dari industri hiburan. Sama sulitnya jika harus mencari siapa yang harus disalahkan terhadap masuknya tayangan kekerasan dalam industri hiburan. Kita akan terjebak dalam lingkaran setan antara produser, pengelola TV, sutradara, pengiklan, maupun penonton sendiri. Sementara menangkap setannya lebih sulit, tindakan yang bisa kita lakukan adalah meminimalkan pengaruh tersebut, khususnya terhadap anak-anak. Kuncinya, mulai dari lingkungan keluarga.

Bahayanya Ketagihan Infotaiment


Infotaiment menurut Wikipedia adalah salah satu jenis penggelembungan bahasa yang kemudian menjadi istilah populer untuk berita ringan yang menghibur atau informasi hiburan. Infotaiment merupakan kependekan dari istilah Inggris information-entertainment. Infotainment diIndonesia identik dengan acara televisi yang menyajikan berita selebritis dan memiliki ciri khas penyampaian yang unik. Tayangan infotainment memiliki pengaruh yang besar terhadap “konsumsi” hiburan bagi ibu-ibu rumah tangga. Namun sayangnya, pengaruh tersebut condong kearah yang negatif. Beberapa pengaruh tersebut menimbulkan akibat yang tidak baik bagi keadaan rumah tangga. Contohnya saja dengan meningkatnya perceraian yang sebenarnya sangat tabu dibicarakan dan sangat jarang terjadi ketika masa orang-orang terdahulu sebelum hadirnya infotaiment.

Infotaiment umumnya berisikan berita hal-hal yang berbau dengan keartisan. Segala tingkah polah artis dari yang baik sampai yang buruk pun disiarkan oleh acara-acara infotaiment. Seperti perceraian, pemukulan, narkoba, pembunuhan, kematian sampai selebritis yang hamil diluar nikah pun disiarkan oleh acara infotaiment ini. Bahkan disetiap stasiun televisi pun pasti ada program yang berbau informasi entertainer ini. Dan yang paling banyak mengkonsumsi acara ini yakni dari kalangan ibu-ibu maupun remaja putri, tidak jarang jika terkadang mereka sering melupakan tugasnya sehari-hari hanya demi acara infotaiment. Menurut mereka acara gossip lebih penting daripada memasak.Adapula dari kalangan ibu-ibu dan remaja ini yang meniru segala tingkah dan kehidupan para artis. Sungguh ironi jika perlakuan buruk para artis itu ditiru karena adanya media yang menyiarkan kepada masyarakat tanpa sensor.

Artis adalah public figure. Segala tingkah dan adabnya di perhatikan oleh setiap orang, tak jarang banyak yang dari kalangan masyarakat yang mengidolakan mereka.Adabaiknya mereka harus memerhatikan segla kelakuannya agar tidak menjerumuskan para idolanya akan hal yang sama.karena jika diperhatikan, kehidupan para artis sekarang sudah banyak yang mengadopsi kehidupan orang-orang barat. Rata-rata artis sekarang kehidupannya sangat bebas. Mereka juga dapat dijadikan penyebab merosotnya moral anak bangsa.namun hal ini tidak akan terjadi jika tidak ada yang mempublikasikan. Orang yang mengejar berita artis juga harus dapat menetapkan berita pada hal-hal baik untuk konsumsi masyarakat. Jangan jadikan kemalangan artis sebagai ajang untuk mengeruk keuntungan, perhatikan juga dampaknya bagi masyarakat.

Tidak hanya itu, masyarakat juga harus bias menempatkan berita tersebut kepada hal-hal yang positif. Tidak langsung menjadikan kesalahan mereka sebagai hal yang wajar. Untuk para remaja yang masih labil, dalam menyimak acara infotaiment itu jangan terlalu maniak. Karena mereka cenderung berpikir pendek dalam melakukan sesuatu, dan mereka juga cenderung meniru tingkah polah dari idola mereka. Begitu pula dengan para ibu-ibu rumah tangga maupun yang berkarier, seharusnya mereka bisa menjadi tameng bagi keluarga dalam persoalan moral anggota keluarganya, jangan malah menjadikan acara infotaiment itu acara yang layak ditonton. Didalam agama islam pun sudah mengharamkan hal-hal yang berbau aib. Seperti bunyi hadis berikut “ Barang siapa yang membuka aib seseorang muslim dengan satu dosa, maka dia tidak akan mati sebelum dia melakukan aib yang dibukanya.” (HR. Tarmizi)

Bandeng diembat, Motor di Babat, Ancaman Mendarat


Lhokseumawe – Sayuti (53) warga alue awe yang berprofesi sebagai penjaga tambak bandeng mengalami kemalangan ketika hendak mengunjungi tambaknya yang hampir panen pada kamis malam (20/9). Pasalnya, dia memergoki seorang pencuri  yang sedang asyik mengambil bandeng di tambaknya. Anehnya, bukan menangkap pelaku, tapi pelaku malah mengejar Sayuti dengan parang dan merusak motornya.  “saya berhasil lari, tapi motor saya yang ketinggalan malah dirusak silanya (tempat duduk) dengan parang” ujarnya. Menurut keterangan sayuti, dia mengenal pelaku yang merupakan warga desa  Meraksa dengan inisial TA (38). Sayuti juga mendapat ancaman dari pelaku, yang membuat dirinya enggan pergi ke tambak jika sendirian.

Huzairin (48) pemilik tambak mengatakan ikannya memang sering hilang, tapi baru kali ini terungkap siapa pelakunya, ”awalnya kami ingin menyelesaikan secara damai, namun karena sudah terjadi pengancaman, terpaksa kasus ini kami serahkan kepada pihak berwajib, dan tersangka tertangkap tanpa perlawanan di kediamannya pada selasa siang (4/10)” ujarnya.

 

POTRET PEMBANGUNAN KOTA LHOKSEUMAWE


Kota Lhokseumawe merupakan salah satu kota yang bearada di kawasan pesisir timur Aceh, kota ini merupakan hasil pemekaran dari Kabupaten Aceh utara. Secara geografis Lhokseumawe merupakan daerah yang sangat stratgis sebagai jalur perlintasan Sumatera utara dan Banda aceh,tentunya sangat menguntungkan secara Ekonomi bagi masyarakat kota lhokseumawe. Lhokseumawe juga digadang-gadang sebagai kota kedua terbesar di Aceh dan di juluki sebagai Petro dolar. Pada awal mula pemekaran Lhokseumawe memiliki tiga kecematan yang meliputi kecamatan banda sakti, Muara Dua, dan Blangmangat. Seiring berjalan nya waktu jumlah kecematan di Lhokseumawe bertamah menjadi empat dengan di mekarkannya kecamatan Muara satu dari hasil pemekaran keamatan muara dua. Sebagai daerah pemekaran tentunya kota lhokseumawe harus memulai dari “nol” terhadap keseluruhan aspek mulai sistem pemerintahan hingga ke aspek pembangunan. Pada awalnya pejabat pemerintah kota lhokseumawe saat itu memfokuskan kinerja terhadap konsep pemerintahan yang birokratif, dan meningkatakan kesejahtraan masyarakat melalui hasil kelautan,perdagangan dan industri kecil menengah hingga industri besar, namun semua itu elum berjalan dengan maksimal dikarenakan kepala pemerintahan saat itu tidak definitif sehingga tidak bisa melaksanakan tugas dengan maksimal, ditambah situasi keamanan saat itu masi tidak stabil. Seiring mulai kondusifnya situasi keamanan di Aceh dengan adanya Mou perdamaian antara Pemerintah RI dan Gam saat itu, memberi angin segar bagi Aceh tidak terkecuali Kota Lhokseumawe. Adanya pemilukada tahun 2007 saat itu akhirnya Aceh memliki kepala daerah definitif, dan kota lhokseumawe sendiri memilih bapak Munir dan suaidi sebagai pemegang tampuk pemerintah kota lhokseumawe dalam jangka lima tahun kedepan, dalam beberapa tahun kepemimpinan mereka fokus utama peningkatan kesejahtraan masyarakat lhokseumawe melalui proses pembangunan infrastruktur yang diharapkan akan meningkatkan perekonomian terhadap semua komponen perekonomian masyarakat. Mulai dari memperluas jalan menjadi dua jalur memperlebar jalur jalan protokol, dan juga membangun wauk raksasa dan drainase untuk mencegah banjir yang sering melanda kota lhokseumawe. Namun apakah semua itu berjalan sesuai dengan yang diharapkan? Tentu semua masyarakat dapat menilai sejauh mana hasil dari program pembangunan yang menghabiskan ratusan milyar rupiah uang rakyat, dari pelebaran sejumlah jalur protokol ytang seharusnya memperlancar akses pengguna jalan ternyata menjadi lahan parkir yang akhirnya mengganggu aktifitas pengguna jalan lainnya, pembangunan mega proyek waduk raksasa dan drainase untuk penaggulangan banjir terkesan sia-sia karena ketika hujan mengguyur beberapa sudut kota masih tergenang banjir,bahkan ketika musim kemarau datang waduk menjadi bau yang tentunya mengganggu kesehatan dan aktifitas masyarakat sekitar. Harus kita akui bahwasanya pembangunan di kota lhokseumawe makin meningkat dibandingkan tahun-tahun sebelumnya, namun apabila hasil pembangunan seperti ini tidak memberikan efek positif bagi masyarakat sama saja omong kosong, lebih baik dana pembangunan tersebut di alaihkan ke program pemberdayaan masyarakat yang kiranya dapat langsung dinikmati oleh masyarakat. Pembangunan infrastruktur merupakan komponen penting bagi peningkatan kesejahtraan masyarakat, namun ketika dalam proses peng implementasian tidak berjalan sesuai dengan apa yang diharapkan tentu hal tersebut akan jadi bumerang terhadap masyarakat itu sendiri, mudah-mudahan kedepan ada pemegang tampuk jabatan pemerintahan dapat menjadikan problema ini sebagai bahan pertimbangan agar melaksanakan program pembangunan yang lebih pro rakyat.

Kuah Bandeng Teu craah


Bahan-bahan:

1 ekor bandeng yang dibersihkan dan di potong.

5 siung bawang merah

7 buah asam sunti (belimbing yang sudah di jemur).

1 siung bawang putih

10 buah cabe merah

1 ruas kunyit

1 SDM ketumbar

5 lembar daun teumurui

1 lembar daun pandan

jeruk nipis

garam secukupnya

minyak goreng secukupnya

air secukupnya

bumbu yang dihaluskan:

bawang merah+bawang putih+cabe merah+ketumbar+kunyit.

cara membuat:

lumuri ikan bandeng dengan garam dan perasab jeruk nipis, diami sebentar sampai meresap. Panaskan minyak lalu tumis bawang merah yang dirajang beserta daun pandan dan daun tumurui. setelah wangi masukkan bumbu yang telah dihaluskan aduk hingga sedikit matang, setelah masukkan potongan bandeng, diami sebentar sampai ikan berwarna kekuning-kuningan. lalu tambahkan air untuk kuah sesuai dengan selera anda.
Kuah bandeng Teu Crah ala Chef Ala inoeng Voenna siap disajikan.